This is a free and fully standards compliant Blogger template created by Templates Block. You can use it for your personal and commercial projects without any restrictions. The only stipulation to the use of this free template is that the links appearing in the footer remain intact. Beyond that, simply enjoy and have fun with it!

Jumat, 30 Oktober 2009

NASKAH TEATER: TUMANURUNG



Naskah\Sutradara:
K.J. Bulu Pakrikongang



Adegan I
Tampaklah telur yang menetas. Seiring kilat dan hujan turun.

Adegan Ke II
Terlihat wajang besar sebagai tempat memasak gula merah. Bapak sedang membelah-belah kayu Ammak baru datang membawa pelepah kelapa. Ammak mengikat daun kelapanya lalu memasukkan ke dalam Tungku bersama beberapa potongan kayu kering. Gambusu Daeng Sitangnga memperbaiki layang-layang yang terbuat dari daun lontar.

Keso-keso Daeng Sibali
E e e e, anakku Gambusu Daeng Sitangnga kenapa mukamu terlipat tiga?

Gambusu daeng Sitangnga
O, layang layang kongkong garringpuayya.


Keso-keso Daeng Sibali
Jangan kamu bersikap seperti itu, apa masalahnya?

Gambusu Daeng Rappung
Tidak mau terbang, tidak biking senang dan terasa hati ini ingin merobek lalu kuinjak kutendangi ini layang-layang.


Keso-keso Daeng Sibali
Coba aku lihat.

Gambusu Daeng Rappung
Lihatmi, lalu perbaikimi memangmi

Keso keso Daeng Sibali
Ooooo tidak seimbangki Gambusu Dang Sitangnga

(Masuklah Ammak membawa daun kelapa)

Gambusu Daeng Rappung
Haruskah seimbang?

Sattunia Daeng Layu
Ih anakku, keseimbangan itu perlu. Termasuk hidup ini Gambusu. Seperti dalam kehidupan ini anakku, Dunia dan akhirat harus seimbang.

Keso-keso Daeng Sibali
Sekarang coba kamu besihkan dulu tempurung itu. Karena, sebentar lagi gula akan masak.

Gambusu Daeng Rappung
Layang-layangku bagaimana Tetta?

Sattunia Daeng Layu
Dahulukan dulu yang lebih penting Nak.

Keso-keso Daeng Sibali
Jangan lupa, cuci berkali-kali.

Gambusu Daeng Rappung
Kenapa mesti berkali-kali?

Sattunia Daeng Layu
Agar bersih Nak, singratangi jene appakalannying batang kale.

Keso-keso Daeng Sibali
Betul Gambusu, sama halnya tubuhmu itu yang sering kamu basahi air agar bersih dan tidak bau.

Gambusu Daeng Rappung
Sambarang todo, yang jelas layang-layangku perbaiki.

Sattunia Daeng Layu
Gambusu, jammang na kana-kanannu iyamintu carammeng tau maraeng ri batang kalenu.

Keso-keso Daeng Sibali
Atau kata lainnya, sikap kita itu menentukan sikap orang lain kepada kita Gambusu.
( setelah itu, mereka menyiapkan proses pmbuatan gula merah yang sudah masak)

Adegan ke III

Singrili Daeng Kulle sedang memperhatikan tiga pohon lontar di depannya. Tampak terlihat olehnya, Tampaklah Mangkasar Daeng Cinnong sedang mengikat Tiga ekor kambingnya. Tak lama perempuan cantik itu berada di tengah ilalang. Singrili Daeng Kulle terlihat kaget ketika ia turung dari pohon dan melihat Mangkasara Daeng Cinong. Mangkasara Daeng Cinong nampak biasa-biasa saja. Meski, Singrili Daeng Kulle mulai bereaksi.

Singrili Daeng Kulle
Beru bangngipi pale
Nakuare naniami bangbang alloa
Mammuri-muri misse nyawaku
Lompo bombang karannuang ridallekang batarayya

Mangkasara Daeng Cinong:
Maksudta?

Singrili Daeng Kulle:
Ternyata malam baru memulai menghitung usianya
Kusangka siang membakar ilalang
Sungguh jiwaku menari
Bagai ombak rindu beradu ria kan kulantunkan di depan Tuhan

Mangkasara Daeng Cinong:
Kenapa engkau mengatakan malam baru menghitung usianya? Padahal saat ini sudah betul-betul siang.

Singrili Daeng Kulle:
Nasaba batarayya ri tangnga ruku na mata allo takmakgio tatongko renggasela. Sebab bulan tampak di tengah ilalang dan matahari terpenjara dalam prahara.

Mangkasara Daeng Cinong
Jai sara langik leleng, paburittana bosi lompoa. Mangka biasa lebbaki poko-poko tamaculla kareloe ammoli nakku na iya tau maccidong rate bisean tukasiasia sukku ricappa lino.
Suara langit dari selangkangan awan hitam, berita hujan akan deras. Namun, terkadang pohon tiada ……. Sungai Kareloe menyimpan rindu. Sedangkan orang-orang lemah terseret di tepi ajalnya. Apalagi, aku pernah bermimpi dipersunting oleh laki-laki yang gagah keturunan dewatae.

(Setelah itu, Singrili Daeng KUlle ditinggal pergi oleh Mangkasara Daeng Cinong)


Singrili Daeng Kulle:
Aku tidak perduli dengan apa yang barusan kamu sampaikan. Yang jelas, tak dapat masa mudamu maka kutunggu masa jandamu, tak dapat masa jandamu kutunggu masa……masa akan datang. Masa akan datang! Setelah masa akan datang? Masa iyyallah, masa iadong bukan jamila tapi mangkasara Daeng Cinong

(Setelah itu, Singrili Daeng Kulle beristirahat dan teridur seiring alunan singrili terus mendengung. Dalam mimpinya, Singrili Daeng Kulle bertemu dengan Mangkasara Daeng Cinong. gadis-gadis cantik menari di depan mereka. Setelah tarian selesai. Mangkasara Daeng Cinong merentangkan selendangnya berwarna merah jambu dan merekapun bercumbu.namun, tiba-tiba Karaeng Tamalajua datang mengambil Mangkasara Dg Ci’nong Lampu padam dan terlihat Singrili Daeng Kulle di usap-usap oleh ketiga kambing Mangkasara Daeng Cinong. Belum lagi Singrili Daeng Kulle terbangun dari tidurnya, Keso-keso Daeng Sibali alias Bapaknya datang. Bapaknya, terlihat kaget melihat anak laki-lakinya di kerumungi kambing)

Adegan IV
Mimpi

Keso-keso Daeng Sibali
E e e e e e, apantukau. Bagaimana bisa hidupmu bisa berubah, kalau kerjamu hanya tidur saja.

Gambusu Daeng Rappung
O’ kammatongi jeka Pako. Dengka Ca’ Dangkai ca. Ada duaji itu Singrili Daeng Kulle, yakin dan percaya!

Keso-keso Daeng Sibali
Maksudmu apa Gambusu Daeng Sitangnga.

Gambusu Daeng Rappung
Yakin kita bisa sukses dan percaya diri bisa mencari jalan yang terbaik

Keso-keso daeng Sibali
Eh, Upana! Semenjak saya. Keso-keso daeng sibali melihatmu dipangkuan ibumu. Baru kali ini kamu bicara dan terjamin kebenarannya.

Singrili Daeng Gallang
Oh, Aku ada di mana? Siapakah kalian? Di mana mangkasara Daeng Cinnong?

Gambusu Daeng Rappung
A’ Idompala, banggulu tampilo jarang. Dengka ca!

Keso-Keso Daeng Sibali
Eh, Anakku. Jangan kau berbuat seperti itu karena ia tetap saudaramu.

Kacapi Daeng Jallo
Heba’na bela. Pasti ini Singrili Daeng Gallang, Gambusu Daeng Sitangnga dan bapaknya Keso-keso Daeng Sibali hadir di tempat ini.

Keso-keso Daeng Sibali
Apa kabara anging salloa mammiri, anakna Saribattangku tuamtea Papui-pui Daeng Nganja.


Singrili Daeng Gallang
Anakna Papui-pui Daeng Nganja? Oh, teman kecilku ini Tetta?

Kacapi Daeng Jallo
Eh, Singrili, masih kamu ingat ketika aku ke kebunmu bersama ayahku.

Singrili Daeng Gallang
O….waktu itu kamu pake baju baru berwarna merah?

Kacapi Daeng Jallo
Betul, sedangkan kamu pake baju kuning dengan celana berwarna merah. Iyakan?

Keso-keso Daeng Sibali
Dan kalian berdua sedang bermain-main tingko-tingko alias sembunyi-bunyi.

Gambusu Daeng Rappung
Oh, ya. Saya juga mengingatnya dan saat itu…

Singrili Daeng Gallang
Ha..ha..ha..ha.. bisapi itu? Eh andikku Gambusu Daeng Sitannga. Bagaimana bisa kamu mengingat sesuatu? Ota’pa antu Daeng Ngandi.

Keso-keso Daeng Sibali
Jangan seperti itu. Coba lihat, adikmu sepertinya tersinggung.

Singrili daeng Gallang
Kalau begitu, berhentilah kita menghinanya. Jangan sampai kita ini saudaraku menyinggung perasaannya.

Gambusu Daeng Rappung
Ini baru saudaraku. Saudara yang selalu menjaga perasaan orang-orang sekitar.

Kacapi Daeng jallo
Memang kamu punya perasaan? Hebatnya, kukira hanya orang-orang yang memiliki perasaan.

Gambusu Daeng Rappung
Kamu telah menginjak-nginjak harga minyak tanah.

Keso-keso Daeng Sibali
Harga diri kapan Nak?

Gambusu Daeng Rappung
Maklum lagi emosi. Rasakan ini!

(Gambusu Daeng Sitangnga menyerang Kacapi Daeng Jallo. Keduanya masing mengeluarkan ilmu ampuhnya. Tak lama mereka beradu ilmu. Mangkasara Dg Cinong datang memberi air kepada ke tiga kambingnya. Mata mereka tak berkedip. Perkelahian sejenak berhenti).

Kacapi Daeng Jallo
Wah, Ternyata ada mutiara pada perut bumi.

(tak lama kemudian asap mengepul dan muncullah Tumanurung)

Singrili Daeng Sibali
Tetta, lihat benda yang berada di lehernya.

Keso-keso Daeng Sibali

Betul anakku, kalung itu adalah pemberianku pada Gambusu Daeng Sitangnga delapan belas tahun yang lalu.

Kacapi Daeng Jallo
Delapan belas tahun yang lalu?

Keso-keso Daeng Sibali
Yah, pada saat Gambusu Daeng sitangnga kutemukan di bawah pohon yang disertai dengan kilat beserta hujan tatkala malam.

Singrili Daeng Gallang
Artinya, ganbusu Daeng Sitangnga bukan saudaraku?

Karaeng Tumalajjua
Yah, aku adalah Tumanurung. Selama ini menjelma menjadi manusia biasa. Lalu diberi nama Gambusu Daeng Sitangnga. Aku juga adalah lelaki yang sering bersiarah ke dalam mimpi Mangkasara Daeng Ciknong.



Para pemain:
-Singrili Daeng Gallang (Akbar Sewang )
-Gambusu Daeng Rappung (Irshal Mahotra)
-Kacapi Daeng Jallo (Akmal Tuributta toa)
-Keso-keso Daeng Sibali\ Angge (Baim Kamase Mapparenta)
- Sattunia Daeng Layu \ Ammak (Pitri Tumasonayya )
-Mangkasara Daeng Cinong (Eka Tamaccini)
-Karaeng Tamalakjua (Eka senggong)
-Penari (Anak-anak Ipass)
-Kambing (Kadir)

WARGA IPASS

IPASS ANGKATAN I

Syahidah, A.Yusmita Rahayu, Maryam Ismail, Sohoria, Fitriani, Fitriati, Ramlah, Jumarni, Fahria, Sakina, Hadasiah "Rika", Endang Rosmaniar, Nurhikma, Mutmainna, Husniati Hamzah, Nursyam, Ibrahim Ahmad, Adnin, Arham, Garungan Tanrisau, Asriyani.

IPASS ANGKATAN II


Herman, Wahidin, Wiwik Gasti, Bia', Eni, Nirwana, Siska, Mbak Erni, Linda, Mamat, Firman, Fatimah Azzahra, Lukman, Rajja, Ratna, Abe', Boki, Ana, Rahmaniar, Kifli, St. Halimah, Sabir, Jumriani, Amelia Ahmad, Muhtar, Raih Aswatullah.

IPASS ANGKATAN III


Muh. Suwandi Yusuf, Bayu Sahabuddin, Ian'K, Akmal Salam, Ansar, Suhaeni, Fajrin, Irmawati A, Irmawati PGSD, Kudus, Salmawati, Ria, Riani, Ridwan, Rini, Yuyu', Syamsiah, Rajab, Malianto.

IPASS ANGKATAN IV

Apriani Ika, Dhika, Indah, Tiar, Zhe-wha-ng, Eka "Zhenggong", Cullan'K, Ulfa Bungsu, Amar S, Radinal Aidin, Tina, Eka Cipit, Ramlah, Lisna, Tenri, Hera, Ita Da'do', Ipe', Ira Sumiati, Firti, Mawang, Marni, Nurfaizah, Irsal, Hasrullah (Joana).

Mohon maaf bila masih ada nama-nama dari warga IPASS yang belum tercatat di atas. Jadi mohon kepada siapa saja yang tahu agar dikomentari.
Terima Kasih!!!

Sekelumit tentang IPASS Unismuh Makassar



Karena cinta maka kami ada!

Cinta dan keprihatinan kami terhadap arus kehidupan ini yang menggerakkan kami untuk membentuk sebuah lembaga seni sastra bernama Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS). IPASS terbentuk pada tanggal 29 November 2004 yang dirintis oleh beberapa mahasiswa yang berpijak di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yaitu: Kusuma Jaya Bulu, Gusno Agus Bahari, Idris “IrhyI, Abdul Rachman Syam, Muh. Arif, Muh. Arfa Leo, Muhlis, Asnur, Khaerul Akbar, Zulkifli, Hijrianto, dan Kasman.

IPASS bukan hanya kami maksudkan sebagai wadah bagi para pesastra dalam menuangkan imajinasi, tetapi Iebih dari itu, sebagai tempat belajar bersama. Di sini, kami belajar untuk memahami keberadaan dan posisi masing-masing. Kami saling canda, saling mengisi dan menutupi kekurangan satu sama lain serta saling menopang. Pada akhirnya, kami berkeyakinan bahwa seni dan sastra akan menjadi media pembelajaran bagi kami untuk menjadi santun dalam perilaku dan budi bahasa. IPASS adalah nirwana kecil kami yang berdiri di atas tiga: piIar persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan.