This is a free and fully standards compliant Blogger template created by Templates Block. You can use it for your personal and commercial projects without any restrictions. The only stipulation to the use of this free template is that the links appearing in the footer remain intact. Beyond that, simply enjoy and have fun with it!

Selasa, 08 Desember 2009

MILAD V IPASS

Malam Sejuta Makna, Milad Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS) yang ke lima sukses terlaksana pada tanggal 8 Desember 2009 di Auditorium Al Amien Unismuh Makassar. Meski hanya bermodalkan "nekat" (kata warga IPASS), pelaksanaan milad V ini berlangsung dengan meriah. Milad yang berlangsung dari pagi hingga tengah malam dihadiri oleh Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (Ibunda Dra. Munirah, M. Pd.) dan beberapa UKM-UKM Seni se Makassar, serta beberapa orang dari pendiri IPASS (Kusuma Jaya Bulu, Kasman, Idris, Gusno Agus Bahari, dan Hijrianto). Milad kali ini mempersembahkan pementasan warga IPASS seperti tari, banyolan, musik, dance, parade jimbe, puisi, dan teater. Milad ini terlaksana atas kerja keras warga IPASS sendiri, mulai dari latihan hingga pendanaannya yang memakan waktu sekitar 2 bulan. Milad V IPASS juga turut disponsori oleh CLC Lensa Comunika dan Fajar TV. Sukses IPASS, teruslah berkarya.......!!!!!!!!!

Kamis, 03 Desember 2009

HARGA SEBUAH JANJI





Oleh: Irhyl'k Rhantaz


Rekah jua putik itu. Raba resah yang menyalib cinta di tabir hening. Tata angan di telaga sunyi. Lukis tawa di ruas persimpangan, lantas nafas zaman berhembus serak setubuhi anganku. Akankah para musafir dan malaikat bertirakat untukku? Akankah puisi tentang musim semi rampung ketika penggembala embun kepakkan sayapnya tinggalkan mentari? Ataukah, aku mendaur hampa tiap harapan itu? Mantasia, kurasa sudah saatnya gerimis perasaanku kutuang padamu. Karena hentakan rindu memenggal kesabaranku hingga ke ubun waktuku.

Kepingan kata-kata itu kutabur di terminal cahaya pekan lalu. Aku tak lagi peduli apakah Mantasia akan membacanya ketika cahaya merasuk ke kamarnya di pagi hari. Padahal kata-kata itu sangat penting artinya bagiku. Tapi aku telah ikhlas, aku telah bahagia melakukannya untuk seorang yang bernama Mantasia. Meski ia tak membacanya sekalipun. Lagi pula ini bukan pertama kalinya aku mengirim kata-kata seperti itu untuknya. Tapi kata-kata di atas sangatlah istimewa, karena kutabur di terminal cahaya. Kalau selama ini hanya kukirim lewat esemes ke nomor nol delapan lima dua empat dua enam sembilan enam enam delapan satu yang tidak asing lagi bagiku. karena pemilik nomor hape tersebut adalah Mantasia. Dia kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di kota ini. Dia berasal dari Manado, namun sebenarnya orang tuanya asli Makassar dan di kota ini ia tinggal di rumah tantenya. Mantasia anak kedua dari tiga bersaudara. Dia suka warna biru muda. Hanya itu yang kutahu tentang Mantasia. Perkenalanku dengannya secara tak sengaja. Beberapa yang lalu esemesnya kesasar ke nomor hapeku. Aku balas esemesnya mencoba mengingatkan kalau dia salah kirim. Sejak itulah kami kenalan dan sering esemesan sampai saat ini. Tapi aku tak sekalipun pernah ketemu dengannya.
Cahaya meredup pagi itu. Nafasku terasa sesak. Cahaya benar-benar akan menjauh dariku. Dari pertemuanku dengan Mantasia. Kata-kata yang kutabur di telapknya akan terhapus gerimis pagi. Mataku sedikit nanar, sedikit berair. Tapi bukan menangis meski ada sendu di wajahku. Toh aku harus benar-benar belajar ikhlas menghadapi tiap tapak kehidupanku. Tiap jejak kemungkinan. Bukankah kita hidup di ranah kemungkinan? Lalu bagaimana dengan Mantasia? Adakah juga resah ketika tahu aku menabur kata-kata untuknya di terminal cahaya? Sedangkan cahaya meredup. "Ah....ternyata aku belum bisa sungguh-sungguh ikhlas melakukan penaburan kata-kata tersebut. Buktinya aku masih harap imbalannya," ungkapku dalam hati. "Sialan....," lanjutku mengumpat diri sendiri.
Matahari pagi meratap. beku. Lalu menggigil di sudut-sudut temani diriku menatap pucuk dedaunan tanpa embun. Imajiku liar, menjelajah ke dimensi-dimensi waktu, ragaku terasa melayang menuju suatu tempat yang tak pernah hinggap di pikiranku selama ini. Di tempat tersebut sebuah jendela terbuka, seakan menyambut kedatanganku. Di sana terbaring sosok gadis yang terbalut kata-kata yang kutabur pekan lalu. Di sekeliling kata-kata itu cahaya berputar menjaganya. Aku tak bisa menyentuhnya. Aku hanya terpaku. "Diakah Mantasia yang kukirimi kata-kata pekan lalu," ujarku setangah berbisik, karena takut mengganggu damainya. Ia teramat damai terbaring dengan balutan kata-kata mutiara yang kukirim untuknya. Sepersekian menit, aku masih terpaku, hingga sebuah suara lembut menyapaku

Jujur aku juga rindukan pertemuan itu, An. Tapi sekarang bukan saat yang
tepat untuk bertemu. Aku tahu kalau tanya selalu rindukan jawaban. Iayaknya
Adam yang selalu rindukan Hawa ketika Tuhan memisahkannya di bumi.
Layaknya Romeo yang selalu rindukan Juliet berada di sisinya hingga keduanya
melihat maut datang kepakkan sayapnya. Dan sejarah mencatat pertemuan
cinta mereka yang kini terpatri abadi di lekuk peradaban dalam candi keabadian. Anto bilakah alam bertanya di mana. fatamorgana bertirakat jawaban dalam denyutku bersamamu. Kembalilah, kembalilah belum saatnya kita bersua....

Suara itu mengagetkanku dari sebuah lamunan pagi. Aku kaget mendapati diriku berdiri di jendela kamarku, menatap lurus ke depan. Kini pandanganku mencoba menelanjangi yang ada di sekitarku. Mencari tahu suara yang barusan bertandang ke gendang pendengaranku. Aku jadi malu sendiri pada diriku ketika menyadari imajiku kian liar memikirkan Mantasia.
Namun peredaran waktu ternyata tak mampu menghentikanku berkhayal tentang Mantasia. Satu hal yang membuatku tak jenuh memikirkannya, karena dengan memikirkannya ada berjuta percakapan puisi kutemui di sana “dia pasti gadis yang romantis" begitulah gumamku setiap aku membayangkannya. Bahkan khayalanku tentangnya kian menggila dan edisi waktu ke waktu Iainnya, aku sering bayangkan. Mantasia berhidung mancung, body langsing, mempunyai lesung pipi, mata bening, kulit kuning langsat, suara serak-serak basah karena aku suka gadis bersuara seperti itu dan masih banyak lagi yang sering kubayangkan tentang Mantasia. misalnya bagaimana dia menggendong anak-anakku kelak hasil buah cinta kami. Kadang juga sering kubayangkan yang mengerikan tentangnya. Bagaimana kalau dia tak perawan lagi? Bukankah pergaualan sekarang kian gila. Pergaulan telah melabrak tata norma dan adat istiadat. Ataukah dia anak pejabat yang terlibat korupsi. Atau anak tetoris yang meresahkan dunia, atau....atau...atau.....aku bingung memikirkannya.
Akü baru sadari perkataan ustadz Bakri guru ngajiku dulu di kampung halamanku kalau sebenarnya kita tak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, dan sebagian dari diri kita sebenarnya ada pada oranq lain tapi kadang kita tak menyadarinya disebabkan rasa egois manusia yang terlalu tinggi. Semua itu bisa kita rasakan dengan adanya anugerah yang ditiupkan Allah SWT pada tiap ubun makluknya yaitu rasa cinta. Sekarang aku rasakan kebenaran perkataan itu. Aku merasa sebagian dan denyut-denyut kehidupanku ada dalam kehidupan Mantasia sekalipun aku tak pernah bertatap muka dengannya. Bahkan aku merasa ada sesuatu yang hilang jika tak kujumpai sepucuk kabar darinya. Meski kabar itu hanya kepingan kata yang tak sempurna di layar hapeku.
Sunyi meratap. Senyum mengendap di dasar air mata. Gigil melambai. Tegar melantak. Penantian meratu di ujung lorong pertemuan. Namun desir angin melagu serak mengrim duka. Duka yang terbalut keentahan. Aku ada pada ranah keentahan itu. Sepekan ini kata-kata tak sempurna yang biasa dikirim Mantasia tak bertamu di layar hapeku. Esemesku juga tak pernah dibalas. Hal itulah yang membuatku menjadi lelaki penanti esemes. Tiap pagi aku kadang habiskan waktuku memandang hapeku berharap ada esemes dari Mantasia. Sore pun demikian, bahkan kalau malam aku tak pernah lagi istirahat dengan tenang. Aku biasanya sudah terpulas pukul dua pulu dua.
malam jadi sering terlelap ketika waktu menyapa dini hari hanya menantikan esemes dari gadis itu.

Maaf, berjuta detik aku tak menghubungimu. Aku ke manado menemui orang tuaku meminta restunya tentang hubungan kita. Dan memutuskan pertunanganku dengan Raka, lelaki pilihan orang tuaku. Ini nomor baruku. Mantasia.

Bunga-bunga tertatih dengan dansanya. Tersenyum padaku. Hari kesembilan Mantasia mengirim kabar padaku. Kabar yang telah lama kunantikan pada tiap waktu.

Kamu buatku resah. Mengajariku jadi lelaki penanti esemes. Oya bagaimana tanggapan orang tuamu tentang hubungan kita.

Kubalas esemesnya secepat mungkin. Aku ingin melepas semua kejenuhanku. Kutunggu balasannya dengan mimik yang tidak sabaran. Tidak ada. Dia tak membalasnya. Ada gurat kecewa terlukis di awan-awan. Aku menelponnya. Untuk pertama kalinya sejak kabarnya lenyap beberapa hari, karena hapenya tak pernah aktif. Rupanya ia ganti nomor.

Halo,... Tasya...... lantas bagimana rencanamu sekarang?" ujarku melalui hape.
"Aku putuskan kabur dari rumah. karena aku ingin melewati antrian waktuku bersamamu An," ungkapnya sambil terisak.
Maksudmu kita akan bertemu, lalu kemudian menikah dan hidup bersama. Tapi ini gilakan, bagaiman dengan kualiahmu dan juga kuliahku? Kamu sudah bicara sama orang tuamu?" tanyaku penuh selidik dan kegalauan.
"Iya aku sudah cerita tentangmu. Tapi ternyata usahaku gagal orang tuaku tak merestui hubungan kita. mereka bersikukuh menikahkan aku dengan Raka, tapi aku tak pernah rnencintai lelaki itu. Dia masih keluargaku. Akhirnya aku putuskan kabur dan rurnah dan kembali ke Makassar untuk hidup bersamamu. karena aku mencintaimu Anto. Aku rasa sudah saatnya kita ketemu. Tapi kamu janji tak akan kaget ketika melihatku, mungkin aku tak seindah yang kau bayangkan selama ini," terangnya, ia kedengaran tak lagi terisak. dari nada bicaranya sekarang menampakkan kalau dia cukup mantap memilih jalan hidup bersamaku.
Aku terdiam dalam waktu yang cukup lama. Galau tiba-tiba melamar ke ulu hatiku. Akhirnya rekah jua putik itu, aku ingin menuangkan gerimis perasaanku padamu. Kepingan kata-kata yang pernah kutabur di terminal cahaya, kembali terbaca olehku. Kepingan kata-kata itu melingkari tiap pijakanku. "Aku harus menepati janjiku padanya, meski ia tak seindah yang kubayangkan," kataku membatin. Aku bingung dan merasa kalang kabut. Mantasia ingin hidup bersamaku. Tapi aku belum siap menikahinya, aku ingin menyelesaikan kuliahku yang kini baru memasuki semester lima. Aku tak ingin menghancurkan harapan kedua orang tuaku. Aku adalah anak satu-satunya yang menganyam pendidikan. Saudara-saudaraku yang empat orang bahkan ada yang tak tamat esde. Aku anak bungsu dari lima bersaudara. Aku adalah tumpuan harapan keluargaku. Ah aku kian bingung. Di satu sisi, aku juga tak mau kehilangan Mantasia. Aku merasa telah cocok dengannya bahkan sangat cocok walaupun kami tak pernah ketemu.
Halo, kenapa diam An, kamu tidak siap menerima kenyataan ini?" suara serak-serak Mantasia lewat hape mengagetkanku dari lamunan panjang.
"Ah...tidak apa-apa," ujarku, belajar lepas dari jerat kebingungan.
"Terus, kenapa kedengaran bingung?" tanyanya penuh selidik.
"Tasya, kamu sudah pikirkan dampaknya, kamu juga tak akan menyesal ketika kelak kau melihatku, lantas aku juga tak seindah yang kamu bayangkan selama ini. Jujur ketika pertama kita esemesan aku merasa kaulah yang terbaik bagiku, aku tak akan menyesal mengenalmu, hanya saja apakah keputusan ini adalah yang tepat buat kita. Apakah menikah adalah jalan terbaik?" terangku dengan nada-nada kegalauan yang tak beraturan. Pikiranku terasa lantak. Galau benar-benar bertasbih di ubunku.
"Ya aku telah pikirkan dampaknya, termasuk dicampakan oleh keluargaku. sekarang aku tak punya siapa-siapa di kota ini selain kamu, aku telah kabur dari rumah tanteku. Aku dianggap anak yang tak berbakti kepada orang tua dan sekarang aku tinggal di kost teman. Aku tak akan menyesal men genalmu. Sejelek apapun kamu, kita ketemu besok pagi di terminal Mallengkeri. Aku mau ke kampungmu yang penuh kedamaian, kesejukan dan keteduhan seperti yang pernah kau ceritakan dalam esemesmu. Aku ingin habiskan waktuku di sana. Kamu jangan jadi pecundang Anto," ujarnya bernada ancaman.
Telpon terputus. Aku belum sempat menyanggupi permintaannya. Kebingungan kembali jadi benalu dalam pikiranku.
Semalaman aku tak merasa menemui lelapku. Pikiranku mengembara temui resah dan kebimbangan.
Pagi hari. Cahaya keemasan menatap padaku. Terminal Malengkeri masih sedikit menggigil. Kata-kata yang kutabur di terminal cahaya akan aku kutemui kembali hari ini, membalut tubuhnya. Penumpang belum begitu ramai. Kutelanjangi seisi terminal itu mencari gadis yang memaki baju biru muda. Di pojok terminal kudapati sosoknya. Terbalut kepingan kata-kata yang kutabur dulu di terminal cahaya untuknya, sehingga dengan mudah aku mengenalinya, meski itu pertemuan pertamaku dengannya. Ternyata dia lebih anggun dari yang kubayangkan. Dia lebih sempurna dari yang kubayangkan selama ini. Aku tak bisa menyamakannya dengan artis tanah air atau membandingkannya karena Mantasia bukan skala yang harus dibandingkan.
Senja yang dingin, pepohonan cengkih yang hijau, jalanan yang berlubang belum juga dibenahi oleh pihak terkait menyambutku. Riuh anak-anak yang bermain kelereng di kolong rumah juga masih terdengar. Orang tuaku menyambut kedatanganku dengan suka cita sekaligus kaget karena ada seorang gadis yang kutemani.
"Ma, pa kenalkan ini Mantasia, temanku," kataku memperkenalkannya.
Setelah aku kenalkan Tasya pada orang tuaku, aku masuk ke kamar menyimpan tas. Di dalam kamar sayup-sayup kudenqar percakapan bapakku dengan Mantasia, sementara ibuku ke dapur membuat teh untuk kami.
Malam memakai jubah hitamnya. Suasana menggigil. Cahaya bulan meredup. Kata-kata yang kutabur di terminal cahaya, tetap setia temani Mantasia. Mantasia terlelap dalam selimut kata-kata itu. Di atas rumah panggung itulah aku dan orang tuaku duduk santai, melepas rindu setelah setengah tahun tak bersua.
"Anto...siapa sebenarnya gadis yang kamu temani itu?" pertanyaan itu meluncur dan kedua bibir perempuan yanq paling aku hormati, menancap ranting-ranting hatiku hingga kurasa remuk seketika.
"Dia berasal dari Manado, tapi kuliah di Makassar. Beberapa hari yang lalu dia ke Manado, tapi orang tuanya mengusirnya, karena dia tidak mau menikah dengan Raka. Lelaki pilihan orang tuanya dan tantenya yang ía tempati di Makassar pun berlaku demikian padanya. Ia ke sini untuk menenangkan pikirannya," terangku, tapi kedua orang tuaku seakan tak mempercayaiku.
"Atau kamu silariang nak?" tanya mamaku dengan bulir-buIir air mata. Sementara bapakku hanya diam. Aku yakin kedua orang tuaku merasa terpukul. Orang tua mana menginginkan anaknya silariang pasti tidak ada. Pasti semua orang tua ingin anaknya menikah baik-baik dengan pesta yang meriah. Dihadiri seluruh sanak keluarga. Apalagi orang tuaku adalah tokoh masyarakat yang punya pengaruh besar dan panutan warga di kampungku.
"Maafkan aku ma, pa. Tapi aku mencintai Mantasia dan aku tak mau kehilangan dia. Kami sudah berjanji akan menjadi sepasang suami istri. Aku akan menikahi dia ma, pa," ungkapku setengah tertunduk.
Belum selesai ucapanku bapakku bangkit dan melayangkan tamparan keras di wajahku. Aku terkapar mencium Iantai yang terbuat dari papan itu. "Kamu tahu bahwa silariang di kampung kita dianggap sangat tabu oleh warga. Bagaimana tanggapan mereka? Anak tokoh masyarakat yang dihormati, melakukan sesuatu yang ganjil," suara bapakku kian meninggi dengan tatapan penuh kebencian kepadaku. Sedangkan tangisan ibuku kian rnemecah keheningan malam membuat Mantasia terbangun. Tapi dia hanya mengintip di celah pintu kamar. Pada akhirnya, kedua orang itu tertunduk dan merestui aku menikahi Mantasia.
* * *
Pernikahan telah usai yang hadir pada hari yang sangat sakral itu hanya beberapa orang warqa. Sementara teman sebayaku yang hadir hanya Baso dan Disa, mereka memang sahabatku sejak kecil, kami tak pernah bertengkar
"Anto, percayalah inilah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untukmu tak perlu pedulikan perkataan orang di sekitarmu, karena semua orang memiliki penilaian yang berbeda. Tersenyumiah pasti ada hikmah di baIik semua ini," Kata-kata Disa bagai siraman gerimis di musim kemarau. Dan Baso menepuk bahuku sebaga suatu isyarat agar aku tetap tegar menghadapi semuanya.
Kini kurasa keteduhan, kesejukan, dan kedamaian kampung yang selalu kubanggakan itu tak lagi ada. Aku dan Mantasia menjadi buah bibir warga, bahkan sampai ke kampung sebelah, berita silariangku menjadi percakapan hangat semua warga. Justru aku merasa kesejukan, keteduhan dan kedamaian pindah ke mata bening Mantasia, tiap kali menatapku. Kepingan kata-kata yang pernah kutabur di terminal cahaya dulu, kini menyatu dengan lekuk tubuh Mantasia.
Warga kian ramai membicarakan kami.
Ah... dunia dan isinya kian edan," keluhku.


Makassar, 19 November 2008 kuperbaharui kisah ini.

Senin, 16 November 2009

IPASS TETAP BERNAFAS

Telah kami halau gelisah menapak lorong itu....
Telah kami bangun tirai untuk menepis badai...
Dan kami eratkan tiga pilar yang selalu mengakar
Dalam jiwa dan raga kami...

Tetap dan akan tetap seperti itu...


To Be Continue........

Jumat, 06 November 2009

TENTANG IPASS



Naskah Drama "CITA-CITA DUA DUNIA"

Penulis Naskah: Kusuma Jaya Bulu

(Sosok anak perawan yang mulai jenuh dengan di puncak hayalannya, ungkapkan hasyratnya kepada ibu yang sudah menjanda beberapa tahun. Bagaimanakah cerita selanjutnya? Selamat menyaksikan.)

AMMAK
Apa yang kamu lakukan di situ? Kalau mau tidur yah, di kamarmu saja. Kasurmu masih baru dalam kamar kan?.

SALMA
Yang aku inginkan bukan kasur empuk, ranjang baru atau…..

AMMAK
Atau kamu ingin kawin?

SALMA
Kawin! Kawin Mak, hari ini bukan zaman Siti Nurbaya, di mana anak perempuan hanya berujung pada kasur dan dapur.

AMMAK
Terus kalau bukan zaman Siti Nurbaya lalu zaman apa?

SALMA
Saman Siti Nurhalisa!

AMMAK
Saman Siti Nurhalisa?

SALMA
Saman siti Nurhalisa, di mana saman Siti Nurhalisa mengkedepankan ilmu dan pengetahuan.

AMMAK
Lalu?

SALMA
Aku mau kuliah!

AMMAK
Tapi……

SALMA
Masalah uang lagi? Kalau membahas masalah itu lagi lebih baik aku tidur dan mengejar masadepan dalam mimpiku saja.

AMMAK
Sebenarnya, ada sedikit tabungan yang telah lama aku simpan dalam kamar Nak. Bahkan, cincin tunangan Almarhum bapakmu masih aku simpan Nak. Apalagi kamu anak tunggal sayang. Pastilah Ammak akan memberikan yang terbaik untukmu

Adegan ke 2
( Adegan ini terjadi dalam mimipi )

TINA
Eh, dengar-dengar Salma mau kuliah di kota yah?

Subaedah
Kata orang seperti itu. Tapi, lihat Ratna yang di sana. Saya dengar dia sedang ngidam!
Sikapnya berubah, dan itu terjadi setelah berbulan-bulan lamanya di kota.

Leha
Maksudmu Ratna kuliah?

Salma
Tapi tidak semua kan?

Ratna
kurasa kalian hanya melihat dari satu sisi pada setiap manusia. Dan andai kalian tahu yang sebenarnya. Kurasa kalian tidak akan berkata demikian.
(Ratna meninggalkan sungai )

Subaedah
lihatlah, dulu sikapnya tidak seperti itu. tapi, sekarang kalian lihat saja.

LEHA
DAN TAK LAMA KEMUDIAN, SALMA AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA!

Salma
Meskipun aku sudah kuliah, aku akan tetap menjungnjung nilai budaya kita. Aku tak akan pernah berubah. Bahkan, aku bisa mengajari kalian tentang banyak hal.

SUBAEDAH
Lihat saja Leha, ia baru rencana kuliah di kota. Anak tunggal yang satu ini sudah ingin mengajari kita.

SALMA
Maksudku…..

TINA
Salma, jangan dengarkan mereka. Niatmu baik kok. Saya yakin kamu bisa memajukan desa ini.

LEHA
Memajukan desa? Kalian ini kaya aparat pemerintah saja.

Subaedah
Betul, atau jangan-jangan Tina juga akan ke kota dan
melanjutkan kuliah juga Leha.
( Tina dan Salma meninggalkan mereka )

LEHA
Salam untuk kota, salam untuk debu dan salam untuk ilmu dan pengetahuan yang akan membodoh-bodohi rakyat

Subaedah
Tapi, kalau saya pikir-pikir mereka itu wajar ke kota dan melanjutkan pendidikan.

LEHA
Maksudmu apa Subaedah.

SUBAEDAH
Karena mereka punya ijazah SMU.

LEHA
Lalu kamu?

SUBAEDAH
Jangankan Ijazah SMU, membaca saja aku tak bisa.

LEHA
Wah, kalau begitu ternyata kamu tak bisa juga dipercaya.

SUBAEDAH
Kamu mau kemana Leha?

LEHA
Kuliah, cari ilmu dan pengetahuan. Agar tidak mudah di bodoh-bodoi termasuk kamu
Subaedah!
Subaedah di tnggal sendiri dan Salma Terbangun dari Tidurnya)

Adegan Ke 3
AMMAK
Nak, bukankah kamu mau kuliah? Ini tabungan ibu Nak.
Salma tersentak dan menjatuhkan Tabungan dari tanah liat di tangan ibunya)

SALMA
Maaf, maaf maafkan aku Ibu. Salma baru saja bermimpi. Ada beberapa teman-temanku tidak mendukung aku kuliah ibu.

RATNA
Tidak kok, kalau aku sangat mendukung kamu Salma.apalagi, kelak kamu akan menjadi tulang punggung keluarga.

AMMAK
Yang penting kamu bisa jaga diri Nak. Nanti ratna akan menghantarmu untuk mendaftar di kota.
(Tak lama kemudian Leha dan Tina datang bersalaman)

Jumat, 30 Oktober 2009

NASKAH TEATER: TUMANURUNG



Naskah\Sutradara:
K.J. Bulu Pakrikongang



Adegan I
Tampaklah telur yang menetas. Seiring kilat dan hujan turun.

Adegan Ke II
Terlihat wajang besar sebagai tempat memasak gula merah. Bapak sedang membelah-belah kayu Ammak baru datang membawa pelepah kelapa. Ammak mengikat daun kelapanya lalu memasukkan ke dalam Tungku bersama beberapa potongan kayu kering. Gambusu Daeng Sitangnga memperbaiki layang-layang yang terbuat dari daun lontar.

Keso-keso Daeng Sibali
E e e e, anakku Gambusu Daeng Sitangnga kenapa mukamu terlipat tiga?

Gambusu daeng Sitangnga
O, layang layang kongkong garringpuayya.


Keso-keso Daeng Sibali
Jangan kamu bersikap seperti itu, apa masalahnya?

Gambusu Daeng Rappung
Tidak mau terbang, tidak biking senang dan terasa hati ini ingin merobek lalu kuinjak kutendangi ini layang-layang.


Keso-keso Daeng Sibali
Coba aku lihat.

Gambusu Daeng Rappung
Lihatmi, lalu perbaikimi memangmi

Keso keso Daeng Sibali
Ooooo tidak seimbangki Gambusu Dang Sitangnga

(Masuklah Ammak membawa daun kelapa)

Gambusu Daeng Rappung
Haruskah seimbang?

Sattunia Daeng Layu
Ih anakku, keseimbangan itu perlu. Termasuk hidup ini Gambusu. Seperti dalam kehidupan ini anakku, Dunia dan akhirat harus seimbang.

Keso-keso Daeng Sibali
Sekarang coba kamu besihkan dulu tempurung itu. Karena, sebentar lagi gula akan masak.

Gambusu Daeng Rappung
Layang-layangku bagaimana Tetta?

Sattunia Daeng Layu
Dahulukan dulu yang lebih penting Nak.

Keso-keso Daeng Sibali
Jangan lupa, cuci berkali-kali.

Gambusu Daeng Rappung
Kenapa mesti berkali-kali?

Sattunia Daeng Layu
Agar bersih Nak, singratangi jene appakalannying batang kale.

Keso-keso Daeng Sibali
Betul Gambusu, sama halnya tubuhmu itu yang sering kamu basahi air agar bersih dan tidak bau.

Gambusu Daeng Rappung
Sambarang todo, yang jelas layang-layangku perbaiki.

Sattunia Daeng Layu
Gambusu, jammang na kana-kanannu iyamintu carammeng tau maraeng ri batang kalenu.

Keso-keso Daeng Sibali
Atau kata lainnya, sikap kita itu menentukan sikap orang lain kepada kita Gambusu.
( setelah itu, mereka menyiapkan proses pmbuatan gula merah yang sudah masak)

Adegan ke III

Singrili Daeng Kulle sedang memperhatikan tiga pohon lontar di depannya. Tampak terlihat olehnya, Tampaklah Mangkasar Daeng Cinnong sedang mengikat Tiga ekor kambingnya. Tak lama perempuan cantik itu berada di tengah ilalang. Singrili Daeng Kulle terlihat kaget ketika ia turung dari pohon dan melihat Mangkasara Daeng Cinong. Mangkasara Daeng Cinong nampak biasa-biasa saja. Meski, Singrili Daeng Kulle mulai bereaksi.

Singrili Daeng Kulle
Beru bangngipi pale
Nakuare naniami bangbang alloa
Mammuri-muri misse nyawaku
Lompo bombang karannuang ridallekang batarayya

Mangkasara Daeng Cinong:
Maksudta?

Singrili Daeng Kulle:
Ternyata malam baru memulai menghitung usianya
Kusangka siang membakar ilalang
Sungguh jiwaku menari
Bagai ombak rindu beradu ria kan kulantunkan di depan Tuhan

Mangkasara Daeng Cinong:
Kenapa engkau mengatakan malam baru menghitung usianya? Padahal saat ini sudah betul-betul siang.

Singrili Daeng Kulle:
Nasaba batarayya ri tangnga ruku na mata allo takmakgio tatongko renggasela. Sebab bulan tampak di tengah ilalang dan matahari terpenjara dalam prahara.

Mangkasara Daeng Cinong
Jai sara langik leleng, paburittana bosi lompoa. Mangka biasa lebbaki poko-poko tamaculla kareloe ammoli nakku na iya tau maccidong rate bisean tukasiasia sukku ricappa lino.
Suara langit dari selangkangan awan hitam, berita hujan akan deras. Namun, terkadang pohon tiada ……. Sungai Kareloe menyimpan rindu. Sedangkan orang-orang lemah terseret di tepi ajalnya. Apalagi, aku pernah bermimpi dipersunting oleh laki-laki yang gagah keturunan dewatae.

(Setelah itu, Singrili Daeng KUlle ditinggal pergi oleh Mangkasara Daeng Cinong)


Singrili Daeng Kulle:
Aku tidak perduli dengan apa yang barusan kamu sampaikan. Yang jelas, tak dapat masa mudamu maka kutunggu masa jandamu, tak dapat masa jandamu kutunggu masa……masa akan datang. Masa akan datang! Setelah masa akan datang? Masa iyyallah, masa iadong bukan jamila tapi mangkasara Daeng Cinong

(Setelah itu, Singrili Daeng Kulle beristirahat dan teridur seiring alunan singrili terus mendengung. Dalam mimpinya, Singrili Daeng Kulle bertemu dengan Mangkasara Daeng Cinong. gadis-gadis cantik menari di depan mereka. Setelah tarian selesai. Mangkasara Daeng Cinong merentangkan selendangnya berwarna merah jambu dan merekapun bercumbu.namun, tiba-tiba Karaeng Tamalajua datang mengambil Mangkasara Dg Ci’nong Lampu padam dan terlihat Singrili Daeng Kulle di usap-usap oleh ketiga kambing Mangkasara Daeng Cinong. Belum lagi Singrili Daeng Kulle terbangun dari tidurnya, Keso-keso Daeng Sibali alias Bapaknya datang. Bapaknya, terlihat kaget melihat anak laki-lakinya di kerumungi kambing)

Adegan IV
Mimpi

Keso-keso Daeng Sibali
E e e e e e, apantukau. Bagaimana bisa hidupmu bisa berubah, kalau kerjamu hanya tidur saja.

Gambusu Daeng Rappung
O’ kammatongi jeka Pako. Dengka Ca’ Dangkai ca. Ada duaji itu Singrili Daeng Kulle, yakin dan percaya!

Keso-keso Daeng Sibali
Maksudmu apa Gambusu Daeng Sitangnga.

Gambusu Daeng Rappung
Yakin kita bisa sukses dan percaya diri bisa mencari jalan yang terbaik

Keso-keso daeng Sibali
Eh, Upana! Semenjak saya. Keso-keso daeng sibali melihatmu dipangkuan ibumu. Baru kali ini kamu bicara dan terjamin kebenarannya.

Singrili Daeng Gallang
Oh, Aku ada di mana? Siapakah kalian? Di mana mangkasara Daeng Cinnong?

Gambusu Daeng Rappung
A’ Idompala, banggulu tampilo jarang. Dengka ca!

Keso-Keso Daeng Sibali
Eh, Anakku. Jangan kau berbuat seperti itu karena ia tetap saudaramu.

Kacapi Daeng Jallo
Heba’na bela. Pasti ini Singrili Daeng Gallang, Gambusu Daeng Sitangnga dan bapaknya Keso-keso Daeng Sibali hadir di tempat ini.

Keso-keso Daeng Sibali
Apa kabara anging salloa mammiri, anakna Saribattangku tuamtea Papui-pui Daeng Nganja.


Singrili Daeng Gallang
Anakna Papui-pui Daeng Nganja? Oh, teman kecilku ini Tetta?

Kacapi Daeng Jallo
Eh, Singrili, masih kamu ingat ketika aku ke kebunmu bersama ayahku.

Singrili Daeng Gallang
O….waktu itu kamu pake baju baru berwarna merah?

Kacapi Daeng Jallo
Betul, sedangkan kamu pake baju kuning dengan celana berwarna merah. Iyakan?

Keso-keso Daeng Sibali
Dan kalian berdua sedang bermain-main tingko-tingko alias sembunyi-bunyi.

Gambusu Daeng Rappung
Oh, ya. Saya juga mengingatnya dan saat itu…

Singrili Daeng Gallang
Ha..ha..ha..ha.. bisapi itu? Eh andikku Gambusu Daeng Sitannga. Bagaimana bisa kamu mengingat sesuatu? Ota’pa antu Daeng Ngandi.

Keso-keso Daeng Sibali
Jangan seperti itu. Coba lihat, adikmu sepertinya tersinggung.

Singrili daeng Gallang
Kalau begitu, berhentilah kita menghinanya. Jangan sampai kita ini saudaraku menyinggung perasaannya.

Gambusu Daeng Rappung
Ini baru saudaraku. Saudara yang selalu menjaga perasaan orang-orang sekitar.

Kacapi Daeng jallo
Memang kamu punya perasaan? Hebatnya, kukira hanya orang-orang yang memiliki perasaan.

Gambusu Daeng Rappung
Kamu telah menginjak-nginjak harga minyak tanah.

Keso-keso Daeng Sibali
Harga diri kapan Nak?

Gambusu Daeng Rappung
Maklum lagi emosi. Rasakan ini!

(Gambusu Daeng Sitangnga menyerang Kacapi Daeng Jallo. Keduanya masing mengeluarkan ilmu ampuhnya. Tak lama mereka beradu ilmu. Mangkasara Dg Cinong datang memberi air kepada ke tiga kambingnya. Mata mereka tak berkedip. Perkelahian sejenak berhenti).

Kacapi Daeng Jallo
Wah, Ternyata ada mutiara pada perut bumi.

(tak lama kemudian asap mengepul dan muncullah Tumanurung)

Singrili Daeng Sibali
Tetta, lihat benda yang berada di lehernya.

Keso-keso Daeng Sibali

Betul anakku, kalung itu adalah pemberianku pada Gambusu Daeng Sitangnga delapan belas tahun yang lalu.

Kacapi Daeng Jallo
Delapan belas tahun yang lalu?

Keso-keso Daeng Sibali
Yah, pada saat Gambusu Daeng sitangnga kutemukan di bawah pohon yang disertai dengan kilat beserta hujan tatkala malam.

Singrili Daeng Gallang
Artinya, ganbusu Daeng Sitangnga bukan saudaraku?

Karaeng Tumalajjua
Yah, aku adalah Tumanurung. Selama ini menjelma menjadi manusia biasa. Lalu diberi nama Gambusu Daeng Sitangnga. Aku juga adalah lelaki yang sering bersiarah ke dalam mimpi Mangkasara Daeng Ciknong.



Para pemain:
-Singrili Daeng Gallang (Akbar Sewang )
-Gambusu Daeng Rappung (Irshal Mahotra)
-Kacapi Daeng Jallo (Akmal Tuributta toa)
-Keso-keso Daeng Sibali\ Angge (Baim Kamase Mapparenta)
- Sattunia Daeng Layu \ Ammak (Pitri Tumasonayya )
-Mangkasara Daeng Cinong (Eka Tamaccini)
-Karaeng Tamalakjua (Eka senggong)
-Penari (Anak-anak Ipass)
-Kambing (Kadir)

WARGA IPASS

IPASS ANGKATAN I

Syahidah, A.Yusmita Rahayu, Maryam Ismail, Sohoria, Fitriani, Fitriati, Ramlah, Jumarni, Fahria, Sakina, Hadasiah "Rika", Endang Rosmaniar, Nurhikma, Mutmainna, Husniati Hamzah, Nursyam, Ibrahim Ahmad, Adnin, Arham, Garungan Tanrisau, Asriyani.

IPASS ANGKATAN II


Herman, Wahidin, Wiwik Gasti, Bia', Eni, Nirwana, Siska, Mbak Erni, Linda, Mamat, Firman, Fatimah Azzahra, Lukman, Rajja, Ratna, Abe', Boki, Ana, Rahmaniar, Kifli, St. Halimah, Sabir, Jumriani, Amelia Ahmad, Muhtar, Raih Aswatullah.

IPASS ANGKATAN III


Muh. Suwandi Yusuf, Bayu Sahabuddin, Ian'K, Akmal Salam, Ansar, Suhaeni, Fajrin, Irmawati A, Irmawati PGSD, Kudus, Salmawati, Ria, Riani, Ridwan, Rini, Yuyu', Syamsiah, Rajab, Malianto.

IPASS ANGKATAN IV

Apriani Ika, Dhika, Indah, Tiar, Zhe-wha-ng, Eka "Zhenggong", Cullan'K, Ulfa Bungsu, Amar S, Radinal Aidin, Tina, Eka Cipit, Ramlah, Lisna, Tenri, Hera, Ita Da'do', Ipe', Ira Sumiati, Firti, Mawang, Marni, Nurfaizah, Irsal, Hasrullah (Joana).

Mohon maaf bila masih ada nama-nama dari warga IPASS yang belum tercatat di atas. Jadi mohon kepada siapa saja yang tahu agar dikomentari.
Terima Kasih!!!

Sekelumit tentang IPASS Unismuh Makassar



Karena cinta maka kami ada!

Cinta dan keprihatinan kami terhadap arus kehidupan ini yang menggerakkan kami untuk membentuk sebuah lembaga seni sastra bernama Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS). IPASS terbentuk pada tanggal 29 November 2004 yang dirintis oleh beberapa mahasiswa yang berpijak di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yaitu: Kusuma Jaya Bulu, Gusno Agus Bahari, Idris “IrhyI, Abdul Rachman Syam, Muh. Arif, Muh. Arfa Leo, Muhlis, Asnur, Khaerul Akbar, Zulkifli, Hijrianto, dan Kasman.

IPASS bukan hanya kami maksudkan sebagai wadah bagi para pesastra dalam menuangkan imajinasi, tetapi Iebih dari itu, sebagai tempat belajar bersama. Di sini, kami belajar untuk memahami keberadaan dan posisi masing-masing. Kami saling canda, saling mengisi dan menutupi kekurangan satu sama lain serta saling menopang. Pada akhirnya, kami berkeyakinan bahwa seni dan sastra akan menjadi media pembelajaran bagi kami untuk menjadi santun dalam perilaku dan budi bahasa. IPASS adalah nirwana kecil kami yang berdiri di atas tiga: piIar persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan.